Pada akhirnya semua ini hanyalah antara kita pribadi dengan Allah. Sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Kebaikan-kebaikan itu bukan untuk sesiapa, tetapi hanya untuk diri kita pribadi. Kejelekan – kejelekan itu juga bukan untuk sesiapa kecuali untuk diri kita pribadi. Pada akhirnya, semua orang akan mengerti, ternyata mereka berada di dunia hanya sendirian. Setiap orang memilki dunia yang berbeda. Saya duduk, bercerita dan tertawa bersama seorang teman, tapi dunia saya beda dengan dunianya. Saya menulis untukmu kawan, tapi duniaku tidak seperti yang kamu bayangkan. Saya memiliki dunia sendiri seperti kamu memiliki duniamu sendiri. Ini bukan sekedar persoalan pemaknaan, dan perkara – perkara abstrak, ini bukan ungkapan bersayap. Ini juga menyangkut dunia fisik, tanah yang kita injak, udara yang kita hirup, warna yang terlihat, aroma yang menggetarkan saraf hidung, sensasi yang terasa. Semua yang bisa diindra, yang kamu indra berbeda dengan yang kuindra. Setiap orang, dalam pengertian ini, betul – betul sendirian di dunia. Sepertinya ungkapan ringan “ ah itu kan hanya perasaanmu saja..” tidak lagi seringan sebelumnya. Entah bagaimana orang lain namun inilah yang saya alami, lahir sendiri…bernafas sendiri…merasa sendiri…hidup sendiri…mati sendiri…dan kemudian, katanya, kelak di alam lain yang belum terbayangkan, selanjutnya akan dibangkitkan sendiri…mempertanggungjawabkan semua kenakalan – kenakalan selama di dunia, sendiri…dan seterusnya…entah apalagi yang akan dijalani, saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Tidak akan ada orang lain yang akan melakukannya untuk kita, bahkan kita tidak pernah benar- benar yakin apakah orang lain yang kita temui dalam perjalanan kehidupan ini betul-betul mengalami seperti yang kita alami, apakah mereka ada seperti kita ada?
Dengan sudut pandang yang bertanggung jawab terhadap kehidupan sendiri seperti inilah, keikhlasan menjadi lebih mudah terwujud, dan kita, ketika melakukan sesuatu benar- benar bersih dari keinginan-keinginan rendah untuk menarik perhatian orang lain, siapapun. Bagaimana mungkin kita berharap perhatian mereka sementara kita tidak bisa benar-benar yakin dengan adanya mereka. Kita tidak pernah mengalami siapapun, kita hanya mengalami diri kita senidri, selalu dan selamanya. Dengan perspektif seperti inilah, kuantum perubahan dalam kehidupan akan kita dapatkan, dengan kesadaran penuh bahwa apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini adalah tergantung sepenuhnya kepada diri kita sendiri. Bukan orang lain, siapapun. Sikap pengecut dengan menyalahkan sesuatu yang lain untuk nasib-nasib buruk yang kita alami menjadi sesuatu yang tidak masuk akal, kalau ada hal-hal buruk yang kita temui, sungguh itu bukan salah siapapun, bukan karena kesalahan orang lain, bukan karena dewi fortuna yang tidak berpihak, bukan karena langit yang sentimen, bukan karena Tuhan yang iseng ngerjain, jangan ge-er lah, hatta setan sekalipun, nasib setiap orang sepenuhnya adalah ikutan dari pilihan-pilihan dalam menentukan langkah. Dengan memperbaiki diri sendiri maka hal- hal baik pun akan datang menjambangi. Walantajida lisunnatillahi tabdiila.
Secara telanjang, kita melihat dan menyimpulkan orang lain sepertinya juga mengalami hal-hal yang jamak kita alami dalam kehidupan. Tapi ini tetap hanyalah persepsi yang tidak bisa dibuktikan sepenuhnya. Apa buktinya mereka melihat seperti kita melihat, melihat apa-apa yang kita lihat, merasa seperti kita merasa, merasakan yang kita rasa, berpikir seperti kita berpikir, memikirkan hal-hal yang kita pikirkan, gelisah, sedih, jengkel, marah, senang, punya keinginan, ada harapan, bisa tersinggung, tersanjung, tertekan, terkesan, malu, haru, bangga, jumawa, ….apa buktinya? Bagaimana membuktikannya? …Tidak akan pernah ada pembuktian. Kita hanya bisa menyimpulkan dengan mereduksi semua keberatan-keberatan yang mengintrupsi. Jumping to the conclusion tidak bisa dielakkan lagi, dengan menyederhanakan semua kompleksitas kehidupan. Penyederhanaan yang keterlaluan. Kesimpulan yang harus diakui, terlalu mentah, terlalu rentan, terlalu lemah, tidak pernah bisa menjawab hakikat tanya-tanya kehidupan. Tapi mau bagaimana lagi? Bisa bagaimana lagi? Hanya itulah yang bisa kita lakukan. Ilmu manusia tidak ada apa-apanya. Setitik debu di samudera sahara.
TV hitam putih hanya akan menyajikan siaran-siaran yang hitam putih. TV warna akan menampilkan sajian yang kaya warna. Walaupun acara yang disajikan sama, tetapi kemampuan pesawat TVnya berbeda. Serangga mempunyai mata faset, dunia yang dilihatnya berbeda. Kemampuan mata kucing hanya bisa melihat pemandangan yang kelabu. Reptil, ular, menemukan dunia yang asing, mereka hanya menangkap sensor panas. Kelelawar buta di siang hari, nyalang di malam hari, lebih terang justru menjadi gelap, lebih gelap justru menjadi terang. Aneh.
Dunia bagaimana yang dibayangkan oleh seseorang yang terlahir buta? Atau pun sekedar buta warna? Apa yang mereka bayangkan tentang cahaya, tentang warna, tentang pelangi? Tentang daun nan hijau, lazuardi nan biru, awan nan kelabu…
Gelombang bunyi yang dikenal setiap makhluk di dunia ini juga berbeda. Ambang batas pendengaran manusia begitu sempit. Gelombang ultrasonik tidak pernah dikenal. Aneh, padahal frekwensi gelombangnya tidak lebih rendah, justru lebih tinggi, tetapi kenapa tidak terdengar. Fitur pesawat pendengaran yang berbeda menghadirkan gemerisik yang berbeda.
Sakitkah nyamuk, dihari naasnya kepergok tangan sedang menghisap setetes darah demi hidupnya yang misterius? Sakitkah ia di kala tubuh mungilnya yang rumit itu hancur di tepuk telapak raksasa gusar yang marah? Muncrat, hancur berkeping, sakitkah? Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh nyamuk itu, saya bukan nyamuk, saya tidak mempunyai cara untuk melacak sensasi indra yang terasa. Tapi jelas nyamuk akan merasakan hal yang berbeda. Kesimpulan mentah saya mengatakan, struktur syarafnya terlalu primitif untuk merasakan sebentuk kemewahan rasa yang dibayangkan manusia kala darah muncrat. Jangankan muncrat berkeping, kulit tergores saja rasanya perih…oh yaa apakah kulit nyamuk juga bisa tergores? Pesawat syaraf nyamuk terlalu sederhana, lebih tepat dikatakan “berbeda” ketimbang “lebih sederhana”, untuk menangkap warna-warni sakit yang ‘manusiawi’. Kita tidak pernah tahu hal yang sebenarnya. Kita tidak pernah sampai pada hakikat kejadiannya. Subhanaka, laa ‘ilma lanaa illa ma ‘allamtana.
Sering terjadi polemik tentang penyembelihan hewan. Para aktivis lingkungan dan pencinta hewan mengajukan keberatannya terhadap praktek penyembelihan hewan. Bagi mereka penyembelihan adalah sebuah cara kejam untuk menikmati daging hewan tak berdosa itu. Mereka tidak bisa menafikkan kebutuhan manusia akan konsumsi daging. Tapi jangan disembelih dong! Kasihan hewan-hewan itu, darahnya mengalir deras, matanya melotot, mendengus, kejang menggelinjang, betapa sakit yang tidak teramat sangat. Kenapa tidak menggunakan metode yang lebih santun? Maka dikenallah di dunia barat metode yang, katanya, lebih manusiawi yaitu dengan memingsankan hewan terlebih dulu, dan kemudian penyembelihan dilakukan disaat si-hewan sedang pingsan. Lihatlah dia beristirahat dengan tenang! Sebentar saudaraku. Tidakkah ini hanyalah sebentuk egoisme berpikir. Bagaimana mungkin kita menyimpulkan bahwa mati dengan tenang seperti itu adalah kematian yang ringan? Bagaimana kita bisa menyimpulkan hewan yang sekarat disembelih merasakan sensasi sakit seperti yang kita bayangkan?
Ada sebuah penelitian untuk membandingkan sensasi indra apa yang dirasakan oleh hewan ketika disembelih, dengan menggunakan sampel sapi, dilakukan pengujian dan pengukuran kuantitatif terhadap tretmen yang berbeda. Pertama, sapi disembelih dengan cara konvensional dan yang kedua, sapi disembelih dalam keadaan pingsan. Dipasang chip sensor pada keduanya sehingga sensasi indrawi sapi-sapi itu bisa dibaca dalam bentuk kurva. Mengejutkan. Ternyata disimpulkan bahwa para pencinta hewan itu salah. Yang disembelih konvensional justru menunjukkan sensasi rasa yang ringan, sedangkan yang dipingsankan justru sebaliknya. Sapi yang disembelih dalam keadaan pingsan, merasakan kesakitan yang perih , sapi itu sangat tersiksa dalam diamnya, tanpa bisa bergerak, atau berteriak, agar bisa sedikit meringankan rasa. Lupakah kita, ketika seseorang sedang mengalami persoalan yang rumit, memberikan dia kesempatan untuk bercerita apa adanya, mendengarkan curhatnya, akan sangat meringankan perasaannya.
Jangan-jangan ini adalah salah satu rahasia kenapa rasulullah menyatakan bahwa orang yang mati syahid dalam medan pertempuran tidak merasakan sakit kecuali hanya seperti gigitan semut kecil. Sempatkah Syech Ahmad Yasin merasakan sakit ketika tanpa disadarinya, tiba-tiba jasad rentanya berkeping dihantam rudal pasukan kera zionis yahudi? Adakah sisa waktu yang cukup untuk menerjemahkan sensasi indra, di saat dalam hitungan sepersekian detik segalanya tak lagi berbentuk? Sementara mereka yang ‘mati baik-baik’ di atas ranjang, persis seperti sapi yang disembelih dengan dipingsankan terlebih dahulu. Melewati setiap jengkal prosesi kematian dengan pelan, perlahan. Merasakan setiap tarikan maut seperti dikelupasi kulitnya hidup-hidup, sedikit demi sedikit, dipaksa menikmati maut seperti diiris dagingnya sedikit demi sedikit. Dan dia merasakan semua tanpa satupun keping mozaik kematian yang terlewati, sampai nyawanya menjerit terlepas direnggut maut, tidak kuat menahankan kesakitan yang tak terbayangkan. Seperti sapi yang dipingsankan lebih dahulu. Sekarat dalam diam. Allahumma inni a’uudzubika min su`ul khootimah
Tentu saja saya tidak sedang memprovokasi siapapun untuk menjadi gila dan konyol. Syahid adalah puncak keagungan yang tidak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Pemahaman tentang kehidupan yang utuh menjadi syarat tak tergantikan. Seorang syahid paham dengan kehidupan yang penuh makna sehingga mereka, dengan kesadaran penuh, menemukan kematian yang juga penuh makna. Syahid hanyalah bagi mereka yang tulus menapaki jalan kebenaran sebagai kesatria kehidupan yang jiwanya begitu rindu untuk bertemu dengan Tuhan. Kematian dengan wajah apapun yang ditemui para kesatria ini tetaplah bernilai syahid walaupun mereka meninggal di atas tempat tidurnya. Bahkan walaupun dia meninggalkan dunia ini di dalam pelukan hangat istrinya. Sedangkan bagi para pengecut, kematian selalu menakutkan, menyakitkan, dan akan menjadi penyesalan berkepanjangan. Tidak ada syahid bagi mereka yang frustasi dengan kehidupan lalu berdalih dengan agama untuk lari dari tanggung jawab kehidupan. Bunuh diri. Syahid hanyalah untuk para kesatria kehidupan.
Lalu kenapa kita tetap tidak boleh untuk semena-mena misalnya membakar sarang semut, bukankah otak dan syaraf semut juga terlalu primitif untuk merasakan panas api. Hampir bisa dipastikan makhluk sekecil itu tidak akan merasakan sakit yang sama dengan saya kalau terkena api. Lalu kenapa kita disuruh untuk menyembelih ayam dengan baik, dengan pisau yang tajam, dengan adab yang baik toh ayam juga belum tentu merasakan sakit ketika disembelih? Kenapa? Kenapa tidak boleh menyiksa binatang? Kenapa ada wanita sholehah yang dihukumi berdosa gara-gara mengikat seekor kucing? Toh kucing itu mungkin saja tidak semenderita yang kita bayangkan. Kenapa? Pada akhirnya semua ini adalah urusan antara kita sendiri dan Allah. Ini tidak ada persoalannya dengan apa yang dirasakan ayam, semut, kucing itu, ini adalah persoalan ketaatan kita kepada Allah. Seperti halnya episod klasik antara iblis dan adam, logika argumentasi iblis menjadi tidak relevan, karena persoalannya bukanlah persoalan iblis terbuat dari apa dan adam terbuat dari apa, ini bukan bab tentang nasab, ini bukan perkara ninggrat dan rakyat tapi itu adalah persoalan ketaatan kepada Allah. Kita harus berbuat baik kepada para binatang itu terlepas dari apa yang mereka rasakan. Tidak peduli mereka merasakan atau tidak, yang jelas kita adalah manusia yang mempunyai perasaan. Kita berbuat baik kepada binatang demi kemanusiaan kita sendiri, dan itulah yang telah digariskan Allah untuk menjaga fithrah kemanusiaan kita. Kita menyembelih hewan dengan adab yang baik bukan karena apa yang dirasakan hewan sembelihan itu, tetapi demi rasa kemanusiaan kita. Dan semuanya adalah antara kita dan Allah. Kita berbuat baik kepada orang lain. Kita membantu orang lain. Kita berbagi kebaikan bukan karena orang lain tapi lebih karena kemanusiaan kita sendiri. Hanya antara kita dan Allah.
Kemanusiaan kita menemukan makna sejatinya dengan berbuat sesuai tuntunan Allah. Tidak ada kaitannya dengan pamrih kepada siapapun dan apapun. Illa liya’budullaha mukhlishiina lahuuddiin
Kita bangun tengah malam yang dingin, bermunajat kepada Allah dalam kesendirian. Lihatlah! Pada akhirnya seluruh hal dalam hidup ini hanyalah antara kita dan Allah.
Tetapi, untuk dapat mencapai perspektif keikhlasan diri seperti ini bukanlah perkerjaan gampangan. Dibutuhkan ketulusan yang sungguh dan kesungguhan yang tulus. Sebuah pencarian makna sejati yang menjadi jalan para kesatria kehidupan. Namun, selalu ada jalan yang lempang membentang, man jadda wajada. Yang perlu kita lakukan adalah menempuh jalan yang lempang itu dengan pilihan penuh kesadaran, setapak demi setapak, perjalanan panjang yang akan menghabiskan seluruh nafas kehidupan. Ihdinashshirathalmustaqiim.
Maka insya allah…man yahdillah falaa mudhillallah, waman yudhlil falaa haadiyalah
February 26, 2009
February 26, 2009
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!